icon
Rata
Homepage/Artikel/Kesehatan Gigi Dan Mulut/Gejala Maloklusi pada Anak dan 5 Cara Efektif Mencegah Gigi Tumbuh Berantakan/

Gejala Maloklusi pada Anak dan 5 Cara Efektif Mencegah Gigi Tumbuh Berantakan

Gejala maloklusi pada anak, Perawatan maloklusi pada anak
dok. Rata Indonesia


Telah ditinjau secara medis oleh drg. Jessica Endriyana, M.Si. 

Kesehatan gigi anak adalah aspek penting yang perlu mendapat perhatian dari orang tua. Tak hanya soal kebersihan dan kesehatannya, tapi juga terkait proses tumbuh kembang giginya. Walaupun gigi susu nantinya akan tanggal, gigi yang tidak dirawat dengan benar bisa menimbulkan berbagai masalah, termasuk pertumbuhan gigi permanen yang tidak rapi atau berjejal (kondisi ini sering dikenal sebagai maloklusi).


Maloklusi pada anak terjadi ketika susunan gigi atas dan bawah tidak sejajar saat mulut tertutup. Kondisi ini bisa muncul dalam bentuk gigi berjejal, tonggos, miring, atau adanya gangguan gigitan. Penyebabnya bisa berasal dari faktor genetik maupun kebiasaan sehari-hari, seperti mengisap jari, bernapas lewat mulut, atau menjulurkan lidah. Oleh karena itu, deteksi sejak dini dan perawatan yang sesuai sangat penting untuk mengatasi masalah ini.


Sebagai orang tua, tentu Rata Family tidak ingin anak tumbuh dengan kondisi gigi yang kurang sehat atau tidak terawat. Maka dari itu, penting untuk mulai memperhatikan kondisi gigi anak sejak masa pertumbuhan agar risiko maloklusi bisa dicegah sejak awal.


Baca juga: Gigi Anak Berantakan: Ini Penyebab dan Cara Merawat Gigi Susu!


Bagaimana Cara Mengenali Maloklusi Pada Anak?

Maloklusi pada anak biasanya pertama kali terdeteksi oleh dokter gigi anak, yang kemudian akan disarankan untuk konsultasi ke ortodontis. Ortodontis terlatih untuk mengenali, mencegah, dan merawat kondisi gigi seperti maloklusi.

Idealnya, anak diperiksa ortodontis sebelum semua gigi permanennya tumbuh. Semakin dini ditangani, biasanya perawatannya akan lebih mudah, cepat, dan hemat biaya.

Untuk mendiagnosis maloklusi, ortodontis bisa melakukan beberapa langkah, seperti:

  • Membuat cetakan gigi menggunakan bahan khusus untuk menghasilkan model plester. Model ini juga digunakan untuk melihat perkembangan selama perawatan.

  • Mengambil foto gigi dan wajah untuk mendokumentasikan proses perawatan.

  • Melakukan rontgen gigi.


Gejala Maloklusi Pada Anak

Gejala maloklusi pada anak bisa berbeda-beda, tergantung pada tingkat keparahan dan jenis gangguan yang dialami. Namun, ada beberapa tanda umum yang bisa diperhatikan, antara lain:

  • Susunan gigi yang terlihat tidak rapi, bertumpuk, atau tumbuh berjejal

  • Gigi bagian atas atau bawah tampak terlalu maju atau terlalu mundur

  • Permukaan gigi terlihat aus atau retak karena posisi gigitan yang tidak normal

  • Anak kesulitan saat mengunyah makanan

  • Anak mengalami kesulitan berbicara atau terdengar cadel, terutama saat mengucapkan huruf seperti “s” atau “t”

Anak yang mengalami maloklusi biasanya memiliki gigi yang berjejal atau tumbuh tidak beraturan. Selain itu, anak juga bisa mengalami salah satu dari masalah gigitan berikut:

  • Overbite: Gigi depan rahang atas menonjol ke depan, melewati gigi rahang bawah.

  • Underbite: Gigi rahang bawah menonjol ke depan, melebihi gigi rahang atas.

  • Open bite: Gigi depan bagian atas dan bawah tidak saling bersentuhan saat mulut tertutup.

  • Crossbite: Gigi atas justru berada di belakang gigi bawah saat menggigit

Kalau anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda seperti di atas, sebaiknya segera konsultasikan ke dokter gigi anak. Penanganan lebih awal bisa mencegah kondisi makin parah. Pemeriksaan rutin juga penting untuk memantau pertumbuhan gigi dan mendeteksi gangguan struktur gigi seperti maloklusi sejak dini.

Cara Mencegah Gigi Berantakan (Maloklusi) Pada Anak

Maloklusi adalah istilah medis untuk menggambarkan posisi atau susunan gigi dan rahang yang tidak normal. Menurut jurnal berjudul ‘Pencegahan Maloklusi Pada Anak’ yang dipublikasikan dalam Makassar Dental Journal, proses maloklusi bisa terjadi sejak usia dini dengan prevalensi mencapai 89,9% dan sangat rawan terjadi pada periode gigi campuran.


Maloklusi atau gigi berantakan bisa dicegah sejak dini, lho! Berikut ini beberapa cara mencegah gigi berantakan (maloklusi) pada anak sejak dini. 

1. Konseling antara orang tua dengan dokter gigi

Cara mencegah gigi berantakan pada anak yang pertama adalah dengan melakukan konseling antara orang tua dengan dokter gigi. Idealnya, konseling bisa dilakukan sejak anak belum lahir dengan fokus mengenai edukasi asupan gizi dan makanan terhadap ibu hamil. Perlu diketahui bahwa tumbuh kembang gigi dimulai sejak usia 6 minggu pertama dalam kandungan. 


Ketika anak sudah lahir, sesi konseling difokuskan pada cara-cara menjaga kebersihan gigi dan mulut pada anak. Adapun hal yang perlu orang tua persiapkan:

  • Membiasakan aktivitas menyikat gigi dengan si kecil sebanyak 2 kali sehari

  • Mulai menggunakan pasta gigi berfluoride

  • Melakukan pemeriksaan dini kesehatan gigi anak ke dokter gigi sejak gigi pertama tumbuh (di atas usia 1 tahun pertama anak), serta 

  • Menghentikan penggunaan dot atau kebiasaan buruk lain yang bisa menyebabkan maloklusi.

2. Perawatan gigi sulung

Tak sedikit orang tua menganggap sepele perawatan gigi sulung pada anak, dengan alasan karena gigi tersebut akan digantikan dengan gigi permanen. Sebenarnya dalam pencegahan maloklusi, gigi sulung berperan penting sebagai pemelihara ruang alami terbaik pada lengkung rahang.


Fungsi gigi sulung tidak hanya mempertahankan ruang untuk erupsi gigi permanen, tapi juga  memandu gigi permanen ke posisi yang tepat. Dengan demikian, gigi sulung harus dirawat dan dipertahankan dengan baik sampai masa erupsi gigi permanen. 

3. Rutin kontrol karies gigi

Karies gigi merupakan masalah kesehatan gigi yang serius dan pengendaliannya harus menjadi prioritas. Kemunculan karies pada gigi sulung ternyata bisa menyebabkan maloklusi gigi. Jika karies gigi sulung tidak ditangani dengan tepat, maka kondisi ini bisa meningkatkan potensi gigi berjejal. 


Pencegahan karies gigi dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti konseling diet, mengaplikasikan pasta gigi berfluoride dan perawatan pit &fissure sealant, dan edukasi pada orang tua. Sedangkan jika karies gigi pada sulung sudah terdeteksi, maka gigi tersebut harus direstorasi dengan bahan restorasi yang sesuai.

4. Hindari kebiasaan buruk pada anak

Kebiasaan buruk yang dilakukan anak-anak merupakan salah satu faktor yang berpengaruh pada terjadinya maloklusi. Beberapa kebiasaan buruk yang harus dihentikan dan dihindari adalah mengisap jari dan ibu jari, mendorong gigi dengan lidah, menggigit bibir dan kukur, kebiasaan menelan yang salah, bernapas melalui mulut, dan bruxism

5. Pencabutan gigi susu yang persistensi

Persistensi adalah kondisi dimana gigi susu masih dalam lengkung gigi disaat gigi permanen sudah mulai muncul di lengkung rahang anak. Jika tidak segera ditangani kondisi ini dapat menyebabkan panjang lengkung rahang tidak seimbang dengan jumlah gigi. Kondisi ini bisa mencegah erupsi gigi permanen, sehingga menyebabkan gigi menjadi berantakan (maloklusi). Untuk mencegah hal ini, perlunya diagnosis dini dan tindakan pencabutan gigi yang mengalami persistensi.


Baca juga: Aligner™ untuk Anak, Solusi Meratakan Gigi Si Kecil yang Berantakan

Perawatan Maloklusi pada Anak

Itulah informasi mengenai cara mencegah gigi berantakan pada anak sejak dini. Pentingnya mengajarkan kebiasaan perawatan mulut yang baik sejak dini, termasuk merawat susunan gigi, bisa membantu menciptakan dasar kesehatan mulut yang baik untuk anak-anak yang dapat berdampak positif pada kesehatan mereka secara keseluruhan. 


Sebaiknya, konsultasikan dengan dokter gigi atau dokter gigi spesialis ortodonti untuk mendapatkan panduan yang lebih spesifik mengenai perawatan gigi anak. Jika Parents ingin berkonsultasi seputar masalah gigi berantakan pada anak, silakan berkonsultasi dengan dokter gigi Rata.


Apalagi saat ini telah hadir Rata Junior yang merupakan inovasi baru untuk meratakan gigi anak tanpa behel dalam 4-9 bulan*, transparan, dan bisa dilepas pasang. Rata Junior bisa menangani berbagai kasus gigi anak berantakan, mulai dari protrusif, gigi terbalik, dan gigi renggang.


Sebelum memulai perawatan Rata Junior, ada baiknya untuk mengkonsultasikan terlebih dahulu kasus gigi anak dengan dokter gigi Rata. Jadi, tunggu apalagi? Yuk, segera jadwalkan konsultasi dengan dokter gigi Rata! Cek cara konsultasi Rata dan jangan lupa untuk ikuti Instagram @rata.id untuk info promo terbaru ya!


Rekomendasi Clear Aligners & Klinik Gigi Terdekat


Rata.id Clinic Center | Klinik Gigi & Clear Aligners

Kunjungi dokter gigi Rata terdekat di Pakubuwono, Kebayoran Baru untuk konsultasi mengenai perawatan aligner gigi atau masalah kesehatan gigi dan mulut lainnya.


Alamat: Jl. Pakubuwono VI No.71, RT.11/RW.2, Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta, 12120


Rata.id Bali | Klinik Gigi & Clear Aligners

Mencari klinik gigi di Bali? Klinik Rata Bali hadir untuk menjawab kebutuhan akan kesehatan gigi dan mulut kamu. Jangan sungkan untuk berkonsultasi mengenai perawatan untuk meratakan gigi tanpa behel dengan Clear Aligners™ Rata, ya!


Alamat: Jl. Sunset Road No.105, Seminyak, Kec. Kuta, Kabupaten Badung, Bali 80361


Rata.id Surabaya, Jawa Timur | Klinik Gigi & Clear Aligners

Tinggal di luar Jabodetabek? Tenang! Klinik Rata juga tersedia di area kota Surabaya dan sekitarnya. Kunjungi dokter gigi Rata di alamat berikut, ya.


Alamat: Jl. Indragiri No.48-A, RT.015/RW.06, Darmo, Kec. Wonokromo, Surabaya, Jawa Timur 60241, Indonesia.


Yuk, segera jadwalkan kedatanganmu ke Klinik Rata! Cek website Rata dan Instagram @rata.id untuk info lengkap. Hubungi tim Rata dengan klik tombol WhatsApp di bawah layar, ya!

komentar

0/1000

Belum ada komentar

Jadi yang pertama memberikan komentar